Aku hanyalah salah satu dari mereka yang mencintaimu
Dan aku juga hanya salah satu dari mereka yang mengharapkan kamu menjadi milikku
Mungkin aku cukup lebih beruntung daripada mereka
Karena aku pernah menyentuh sebagian hidupmu yang tak mereka dapatkan darimu
Aku merasa sangat bahagia saat itu
Karena seolah-olah aku telah memilikimu
Padahal seharusnya aku tahu
Bahwa akan ada saat dimana kamu akan menyadarkanku
Bahwa kamu tak akan pernah termiliki olehku
Sampai suatu saat badai menerpa dan kamu mulai membuat tembok yang mengelilingimu setelahnya
Dan aku berusaha menggapaimu tapi kamu selalu bergeming
Semakin aku berusaha, maka semakin kamu meninggikan tembok pembatas antara kita
Bahkan kamu juga menciptakan jurang di perbatasan antara duniaku dan duniamu
Kamu menjadi semakin tak tersentuh olehku
Banyak hari yang kuhabiskan untuk bertanya mengapa
Dan tak ada satupun jawaban yang bisa membuatku maklum
Entahlah
Kurasa bukan tidak ada
Tapi lebih tepatnya aku menyangkalnya!
Ya, aku menyangkal bahwa jawaban itu yang benar
Aku menyangkal bahwa jawaban itulah yang paling mungkin menjelaskan tentang sikapmu
Ya, itu benar
Aku menyangkalnya
Mati-matian bahkan
Aku menyangkalnya seperti seorang atheis yang menyangkal bahwa Tuhan itu eksis
Ya, aku menyangkalnya
Tapi tentu saja hal itu beralasan
Aku telah mencintaimu sepenuh hatiku dan aku tak ingin kehilangan kamu bahkan perasaanmu
Aku sangat memuja eksistensimu dan rela terluka demi perasaanmu
Aku menginginkan 24 darimu
Sunday, November 30, 2014
Thursday, November 27, 2014
Fantastic Four
Jangan pernah berpikiran bahwa post gue kali ini bakalan berhubungan dengan empat orang manusia super yang biasanya muncul di film-film sci-fi Amerika. Nggak, ini sama sekali nggak berhubungan dengan semua itu. Meskipun nama judul dan jumlah orangnya sama, mereka tetep aja kalah jauh kerennya. Perbandingannya bagaikan langit dan inti bumi. Jauh deh pokoknya. Jadi, kalo bukan kelompok superhero, apa dong maksud dari Fantastic Four di post ini?
Kalo gue boleh kasih definisi, Fantastic Four disini adalah kelompok beranggotakan empat orang yang lumayan memiliki otak yang agak cenderung mengarah ke hal-hal yang berbau blue story. Padahal mereka tergolong orang-orang dengan otak yang agak berlebih dibanding anak lainnya. Tapi entah kenapa mereka kayaknya suka banget dengan hal-hal biru. Nggak ada tanggal khusus tentang berdirinya kelompok ini. Bahkan mereka nggak punya nama kelompok. Mereka cuma punya nickname buat masing-masing anggota. Dan Fantastic Four adalah julukan yang gue berikan kepada mereka karena kasian banget gitu nggak punya nama khusus yang keren. Okelah, langsung aja gue bakal kenalin satu-satu personil Fantastic Four.
1. Gue sendiri
Nickname: Oca (Otak Cabul)
Keterangan: binal level dewa, pikirannya gampang banget mengarah ke hal-hal blue, sutradara film project, hobi ngupil, suka nggak nyambung kalo diajak ngomong, agak menderita ketulian, punya pacar Acer D270 warna putih yang selalu ditaruh di ranselnya dan dibawa kemana-mana, writer newbie, punya tulisan tangan yang bisa membuat orang terhipnotis (baca: jelek banget), tukang ngeles handal, omongannya vulgar banget, dan sering jadi tumpuan temen-temennya waktu ngerjain ujian.
2. Kadir
Kalo gue boleh kasih definisi, Fantastic Four disini adalah kelompok beranggotakan empat orang yang lumayan memiliki otak yang agak cenderung mengarah ke hal-hal yang berbau blue story. Padahal mereka tergolong orang-orang dengan otak yang agak berlebih dibanding anak lainnya. Tapi entah kenapa mereka kayaknya suka banget dengan hal-hal biru. Nggak ada tanggal khusus tentang berdirinya kelompok ini. Bahkan mereka nggak punya nama kelompok. Mereka cuma punya nickname buat masing-masing anggota. Dan Fantastic Four adalah julukan yang gue berikan kepada mereka karena kasian banget gitu nggak punya nama khusus yang keren. Okelah, langsung aja gue bakal kenalin satu-satu personil Fantastic Four.
1. Gue sendiri
Nickname: Oca (Otak Cabul)
Keterangan: binal level dewa, pikirannya gampang banget mengarah ke hal-hal blue, sutradara film project, hobi ngupil, suka nggak nyambung kalo diajak ngomong, agak menderita ketulian, punya pacar Acer D270 warna putih yang selalu ditaruh di ranselnya dan dibawa kemana-mana, writer newbie, punya tulisan tangan yang bisa membuat orang terhipnotis (baca: jelek banget), tukang ngeles handal, omongannya vulgar banget, dan sering jadi tumpuan temen-temennya waktu ngerjain ujian.
2. Kadir
Nickname: Omes (Otak Mesum)
Keterangan: wedding photographer, bolak-balik nanyain harga tripod tapi nggak beli-beli, punya perbendaharaan kata-kata blue yang lumayan banyak, punya critical thinking yang tinggi, agak susah kalo disuruh jelasin sesuatu, penahbis nama Oca dan Omes, punya nada mengumpat yang disukai Oca, telaten, sabar, dan gamer.
3. Rizqy
Nickname: Master of Tai Chi (Master of Hentai Chilik)
Keterangan: gamer, punya jambul yang agak dipaksain sebenernya, punya nada bicara yang sok keren, tatapan mesum, lumayan jago Guitar Hero, temennya Omes kalo main game, hobi buat gestur jari tengah dan jempol yang diacungkan bersamaan, sering ngomong pake Lu-Gue, nilai pronounciationnya lumayan bagus.
4. Pak Bush
Nickname: Ragiel (Rai Nggiateli)
Keterangan: ketua kelas, jago speech, sering nggak nyadar kalo lagi ngomongin sesuatu yang blue kalo nggak diingetin sama Oca, berkulit sawo busuk, produser film project, punya pacar cantik yang mau sama doi, akrab sama senior, sering digosipin punya affair sama sekretaris kelas, sering dikira ada hubungan darah sama Anisa Bahar, usil tingkat dewa, mempublikasikan nama Oca ke berbagai forum, perhatian sama anak buahnya, doyan gratisan.
Well, itulah keempat personil Fantastic Four yang spektakuler. Mereka mungkin emang berotak agak nggak biasa. Tapi dibalik itu, mereka sebenernya adalah orang-orang normal yang juga butuh makan (ya iya lah, Bego!). Hidup mesum! Eh, salah. Hidup Indonesia! (ini makin kagak nyambung deh)
Wednesday, November 26, 2014
Professional Project: Behind The Scene
Fuh, hari ini bener-bener tenaga gua dan temen-temen berasa dikuras. Kami pulang kuliah jam 12 siang. Abis itu janjian buat take adegan di lokasi syuting jam 1. Tapi karena ujan nggak mengijinkan kita buat mulai take jam segitu, akhirnya jadwalnya molor. Mulai dari jam 3 sore, kita take adegan sampe jam 5 sore. Abis itu pulang bentar buat memenuhi kebutuhan badan dan perut (baca: mandi dan makan), dan jam 7 malem kita take adegan lagi sampe jam setengah sepuluh malem. Bener-bener bikin capek jiwa raga deh. Padahal hari ini, gue pengen santai-santai di kamar sambil surfing di Cybeworld mumpung nggak ada jadwal kuliah malem. Tapi jadwal syuting berkata lain. Setelah gue pelototin lagi, ternyata gue harus mampu menerima kenyataan bahwa hari-hari libur gue di bulan November sampe Desember kayaknya harus banyak dihabiskan dengan keliling-keeliling lokasi syuting. Sungguh itu gue anggap sebagai penistaan terhadap hari libur. Secara gitu, disaat enak-enaknya tidur, tiba-tiba Bang Produsernya SMS kalo ada jadwal syuting. Hooo... nggak bisakah jadwalnya sedikit ramah lingkungan gitu? Gue nggak munafik lho. Meskipun gue adalah sutradara dalam tuh film, gue juga masih seorang manusia yang mencintai hari libur. So, kadang gue pun agak males berangkat. Apalagi kalo lagi berduaan sama pacar (baca: laptop) gue. Rasanya itu bagaikan Romeo yang dipaksa buat ninggalin Juliet.
Oke, balik ke masalah proyek. Kalo diliat statistiknya pake persentase, gue rasa itu film udah jalan sekitar 25-30%. Angka segitu menurut gue udah cukup bagus mengingat betapa binalnya temen sekelas gue dalam pembuatan film. Ada yang mukanya preman, ada yang weird, ada yang aksennya lucu, bahkan sampe ada yang pasrah aja mau ditaruh di peran apa. Sangat complicated emang manusia-manusia di kelas gua. Padahal kelas gue kebagian genre film drama. Tapi, setelah gue liat-liat, rasanya nggak ada wajah-wajah yang pas buat jadi pemeran seandainya gua mau bikin cerita kayak Romeo dan Juliet, atau Putri Salju dan 7 kurcaci. Nyaris semua cowoknya muka-muka rebel, sedangkan ceweknya muka-muka mirip cabe-cabean semua. Lalu gimana dengan muka gue sendiri? Gue yakin, lebih dari 90% responden yang ditanyain, bakalan bilang kalo gue bermuka mesum. Apalagi kalo nanyanya ke temen sekelas gue. Pasti 100% bilang iya kalo ditanya apakah gue mesum. Hell yeah. Akhirnya, karena segala kekurangan tersebut, gue pun nyuruh si Scriptwriter buat bikin cerita cinta yang ada actionnya buat menyesuaikan dengan muka-muka preman yang ada di kelas gua. Awalnya para preman itu hampir mogok main karena mereka nggak suka pas tau kalo kelas kita kebagian genre drama. Tapi setelah gue jelasin konsepnya, mereka pun setuju dan akhirnya terwujudlah judul "The Bad Guy's Journal: Save The Good Girl". Kalo diliat sekilas mungkin mirip Punk In Love. Tapi kemiripannya cuma 20% mungkin karena gue nggak terlalu hobi memplagiat. Dalam perjalanan mencari pemeran, agak susah nyari orang yang cocok buat jadi tokoh yang romantis karena di kelas gue rata-rata anaknya bermuka datar, slenge'an, dan bahkan mesum kayak gue. Tapi setelah melalui perenungan panjang dan sedikit maksa kepada si orang agar mau jadi pemeran tokoh utama, akhirnya doi mau. Yang susah lagi adalah tentang sudut pengambilan gambar. Nggak ada satupun manusia di kelas gue yang tahu banyak tentang ini. Apalagi cewek-ceweknya yang tahunya cuma ngangkat tongsis setinggi-tingginya. Hell yeah. Tapi akhirnya kita otodidak dan hasilnya lumayan lah dibanding kena topan mengingat segala macam keterbatasan properti buat audio visual. Gue pun kemudian sangat menikmati kerjaan gue sebagai sutradara yang memimpin jalannya syuting yang dibintangi oleh manusia-manusia binal dari kelas gue. Awalnya memang agak sulit buat menyatukan pendapat tentang unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik dari proyek film ini. Tapi seiring waktu, kami makin solid dan enjoy dengan apa yang harus kita kerjakan. Kualitas pun sedikit demi sedikit mulai merangkak naik satu senti lebih baik. Dan gue bangga dengan mereka karena mereka mau belajar demi kepentingan bersama. Yah, semoga apa yang gue temen-temen gue inginkan dapat tercapai tepat waktu dan hasilnya nggak mengecewakan. Amin. Berikut gue lampirkan beberapa foto di sela-sela take adegan.
Oke, balik ke masalah proyek. Kalo diliat statistiknya pake persentase, gue rasa itu film udah jalan sekitar 25-30%. Angka segitu menurut gue udah cukup bagus mengingat betapa binalnya temen sekelas gue dalam pembuatan film. Ada yang mukanya preman, ada yang weird, ada yang aksennya lucu, bahkan sampe ada yang pasrah aja mau ditaruh di peran apa. Sangat complicated emang manusia-manusia di kelas gua. Padahal kelas gue kebagian genre film drama. Tapi, setelah gue liat-liat, rasanya nggak ada wajah-wajah yang pas buat jadi pemeran seandainya gua mau bikin cerita kayak Romeo dan Juliet, atau Putri Salju dan 7 kurcaci. Nyaris semua cowoknya muka-muka rebel, sedangkan ceweknya muka-muka mirip cabe-cabean semua. Lalu gimana dengan muka gue sendiri? Gue yakin, lebih dari 90% responden yang ditanyain, bakalan bilang kalo gue bermuka mesum. Apalagi kalo nanyanya ke temen sekelas gue. Pasti 100% bilang iya kalo ditanya apakah gue mesum. Hell yeah. Akhirnya, karena segala kekurangan tersebut, gue pun nyuruh si Scriptwriter buat bikin cerita cinta yang ada actionnya buat menyesuaikan dengan muka-muka preman yang ada di kelas gua. Awalnya para preman itu hampir mogok main karena mereka nggak suka pas tau kalo kelas kita kebagian genre drama. Tapi setelah gue jelasin konsepnya, mereka pun setuju dan akhirnya terwujudlah judul "The Bad Guy's Journal: Save The Good Girl". Kalo diliat sekilas mungkin mirip Punk In Love. Tapi kemiripannya cuma 20% mungkin karena gue nggak terlalu hobi memplagiat. Dalam perjalanan mencari pemeran, agak susah nyari orang yang cocok buat jadi tokoh yang romantis karena di kelas gue rata-rata anaknya bermuka datar, slenge'an, dan bahkan mesum kayak gue. Tapi setelah melalui perenungan panjang dan sedikit maksa kepada si orang agar mau jadi pemeran tokoh utama, akhirnya doi mau. Yang susah lagi adalah tentang sudut pengambilan gambar. Nggak ada satupun manusia di kelas gue yang tahu banyak tentang ini. Apalagi cewek-ceweknya yang tahunya cuma ngangkat tongsis setinggi-tingginya. Hell yeah. Tapi akhirnya kita otodidak dan hasilnya lumayan lah dibanding kena topan mengingat segala macam keterbatasan properti buat audio visual. Gue pun kemudian sangat menikmati kerjaan gue sebagai sutradara yang memimpin jalannya syuting yang dibintangi oleh manusia-manusia binal dari kelas gue. Awalnya memang agak sulit buat menyatukan pendapat tentang unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik dari proyek film ini. Tapi seiring waktu, kami makin solid dan enjoy dengan apa yang harus kita kerjakan. Kualitas pun sedikit demi sedikit mulai merangkak naik satu senti lebih baik. Dan gue bangga dengan mereka karena mereka mau belajar demi kepentingan bersama. Yah, semoga apa yang gue temen-temen gue inginkan dapat tercapai tepat waktu dan hasilnya nggak mengecewakan. Amin. Berikut gue lampirkan beberapa foto di sela-sela take adegan.
Kiri-kanan: Dedy, Yogie, Firman
Lagi diskusi sama Mas Produser (paling kiri)
Pemain dalam berbagai pose di sela-sela syuting
Kiri-kanan: Bang Produser lagi istirahat bentar bareng Kameramen 1
Paling kiri: pemeran antagonis yang sempet-sempetnya minta difoto
Subscribe to:
Posts (Atom)



